oleh

Perlu Langkah Taktis Atasi Karhutla di Riau

Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Riau. Salah satunya dengan mendatangkan 55 orang prajurit TNI dari Batalyon Satria Sandi Yudha Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Puluhan prajurit khusus itu, bertugas di bawah Bantuan Kendali Operasi (BKO) Komando Resor Militer (Korem) 031/Wirabima. Selain melakukan upaya pemadaman api, prajurit Kostrad itu juga bisa melakukan upaya penegakan hukum terhadap pelaku karhutla, dan menyerahkannya ke pihak kepolisian.

Pengerahan satuan tempur itu telah mendapat izin dari Presiden Joko Widodo untuk untuk mengatasi karhutla. Hal ini setelah Panglima TNI bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, mengunjungi Bumi Lancang Kuning beberapa waktu lalu.

Saat ini puluhan anggota Kostrad itu telah berada di Riau. Untuk daerah operasinya ada di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), yang saat ini juga sedang terbakar.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Selasa (10/9) update pukul 16.00 WIB, masih terdapat 48 hotspot atau titik panas yang tersebar di sejumlah daerah di Riau.

Dimana Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih menjadi penyumbang hotspot terbanyak dengan 25 titik. Disusul Pelalawan dengan 10 titik, Rokan Hilir 5 titik, Indramayu Hulu 4 titik, Bengkalis 2 titik, serta Rokan Hulu dan Kampar, masing-masing 1 titik.

Meski terbilang berkurang dibanding pagi harinya, yakni dari 138 titik panas, namun kabut asap masih sangat terasa.

Mengantisipasi bertambahnya korban terdampak asap, pemerintah daerah juga telah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan siswa sekolah. Selain itu, pemerintah juga mengimbau agar masyarakat mengurangi aktifitasnya di luar ruangan.

Langkah-langkah taktis seperti ini sejatinya telah jauh-jauh hari dilakukan. Pemerintah harus bisa bergerak cepat agar bencana ini tidak semakin meluas, yang tentunya merugikan semua pihak.

Selain itu, perlu peran serta seluruh komponen masyarakat dalam mengatasi karhutla ini. Tidak hanya membebankan persoalan ini kepada pemerintah daerah, dan TNI/Polri saja. Melainkan semuanya harus ambil bagian.

Hal itu seperti disampaikan Komandan Korem (Danrem) 031/WB, Brigjen TNI Mohammad Fadjar, usai mengikuti Rapat Evaluasi Penanggulangan Karhutla di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Selasa kemarin.

Dikatakan Danrem, seluruh elemen masyarakat harus saling bekerjasama untuk menanggulangi karhutla yang terjadi di Riau.

Menurutnya, harus ada efek tangkal yang lebih mengedepankan pencegahan, baik dari aspek hukum maupun pengetahuan.

“Kita harus saling bersinergi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat soal karhutla ini,” kata Danrem.

“Ini masalah bersama di Riau, kita harus kompak. Karena sudah banyak biaya dan sumber daya yang terkuras,” sambung dia menegaskan.

Comments

News Feed