oleh

Jaksa Periksa Tiga Karyawan

PEKANBARU (HR)- Proses penyidikan dugaan kredit fiktif senilai Rp7,2 miliar di BRI Cabang Ujung Batu, Rokan Hulu (Rohul) masih berlanjut. Kali ini, giliran tiga orang karyawan bank tersebut dimintai keterangan sebagai saksi dalam perkara tersebut.

Adapun tiga orang berstatus saksi itu adalah Jefrizon selalu teller BRI. Lalu, Ressy dan Rissa selalu mantan teller BRI Ujung Batu. Mereka diperiksa oleh penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Selasa (8/10). “Tiga saksi diperiksa. Seorang teller, dan dua orang mantan teller,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Penerangan Hukum (Penkum) dan Humas Kejati Riau, Muspidauan, Selasa sore.

Dikatakan dia, pemeriksaan itu dilakukan dalam rangka proses penyidikan untuk mengumpulkan alat bukti. Ketiganya dinilai mengetahui prosedur pemberian kredit sebesar Rp7,2 miliar kepada belasan nasabah. Keterangan saksi akan didalami lagi untuk mengetahui pihak yang paling bertanggung jawab. “Setelah semua keterangan terkumpul akan dilakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka,” tegas mantan Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekanbaru itu.

Diketahui, pengusutan perkara itu dilakukan berdasarkan laporan manajemen BRI ke Kejati Riau beberapa waktu dan diduga ada keterlibatan pihak internal BRI. Atas laporan itu, Korps Adhyaksa Riau menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan (Sprinlid).
Setelah meminta keterangan sejumlah pihak terkait, perkara kredit fiktif ditingkatkan ke penyidikan pada 2 September 2019. Pemanggilan para saksi telah dilakukan sejak pekan lalu.

Dalam perkara ini telah dimintai keterangan mantan Kepala Cabang (Kacab) BRI Ujung Batu, Rusdi, dan sejumlah pegawai BRI, Seperti Danna, Hamdani serta Slamet Riyadi, Marshal selaku Supervisor Penunjang Bisnis, Yondri Donal selaku Asisten Pemasaran Bisnis Mikro, dan Rizki Farizi

Belasan nasabah juga sudah dimintai klarifikasi. Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) mereka dipinjam oleh seorang bernama Sudir untuk pengajuan kredit. Umumnya nasabah mengaku tidak tahu kalau pinjaman mencapai Rp7,2 miliar. Mereka hanya meminjam masing-masing Rp500 juta tapi realisasi yang diterima hanya Rp3 juta sampai Rp5 juta per orang.

Kredit itu rencananya untuk pembangunan veron atau tempat penyimpanan sementara tandan buah sawit. Dalam pengajuan kredit, para nasabah yang merupakan buruh sawit itu tidak mengetahui apa agunan diberikan.(dod)

Comments

Berita Terbaru