oleh

Kak Seto Sayangkan Tindakan Oknum Guru Biarkan Tindakan Kekerasan Terhadap Siswa

 

PEKANBARU (HR)-Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, sangat menyayangkan sikap dari pihak sekolah yang terkesan membiarkan MFA (14) mendapat tindakan kekerasan dari teman sekelasnya hingga membuat siswa kelas VIII SMP 38 Pekanbaru itu mengalami patah hidung.

Ungkapan itu dikatakan nya saat mengunjungi MFA di Kelurahan Bambu Kuning, Kecamatan Tenayan Raya, Selasa (12/11) sekitar pukul 17.55 WIB sore. Pria yang akrab disapa Kak Seto itu juga didampingi oleh Ketua LPA Provinsi Riau, Ester Yuliani serta Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri,

“Yang kami sesalkan adalah sikap dari pihak sekolah. Pertama adanya pembiaran terjadinya bullying ini. Karena menurut korban bukan sekali, sudah berkali-kali,” Jawab Kak Seto

Kabarnya, saat peristiwa perundungan itu terjadi, di dalam kelas pun padahal ada guru yang sedang mengajar. Kendati demikian, nyatanya ang guru tidak secara maksimal mengawasi prilaku anak ketika di dalam kelas.

“Ya itulah yang sangat kami sesalkan. Sebagai pendidik, bukan hanya mengajar. Tapi mendidik. Jadi harus memberi contoh keteladanan. Kalau ada kekerasan, segera bertindak cepat,” lanjut Kak Seto.

Lebih dari itu, pihak sekolah seolah-olah menutup-nutupi kejadian ini dan takut nama sekolah bisa tercemar. “Ini mohon tidak dijadikan cara untuk menjaga nama baik sekolah, tetapi sebetulnya sudah melakukan berbagai pelanggaran perlindungan anak,” Jelas nya lagi

Korban MFA, kata Kak Seto, saat ini mengeluh ingin pindah sekolah lantaran dirinya sering mendapat bullying dari teman sekelasnya itu. “Sudah merasa tidak nyaman. Berarti sekolah membiarkan adanya bullying,” tegasnya.

Melihat peristiwa ini, dirinya akan melakukan evaluasi dengan instansi terkait sejauh mana pengawasan terhadap sekolah. “Jadi kami akan koordinasi dengan Dinas Pendidikan baik Kota pekanbaru maupun Provinsi Riau. Tentang seberapa jauh pengawasan terhadap sekolah ini dan sekolah lainnya,” Tambah dia lagi

Bukan tanpa alasan, sebab Undang-Undang Perlindungan Anak secara tegas menyatakan, setiap anak wajib dilindungi dari tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

“Baik oleh pengelola sekolah, Kepala Sekolah, oleh guru, dan teman-temannya. Tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun juga melakukan bullying dan kekerasan seperti ini,” pungkasnya

Sementara itu, MFA menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada Kak Seto, bahwa kepala nya dipegang lalu dibenturkan ke lutut salah seorang pelaku penganiayaan yang tak lain adalah teman sekelasnya.

“Waktu itu tidak berdarah, cuma terasa sakit,” kata dia

Bahkan aksi kekerasan serta bullying sudah kerap dia terima. Tepatnya sejak awal dia duduk dibangku kelas VIII SMP tersebut, sekitar 5 sampai 6 bulan lalu.

Ibu korban, Lala mengaku kecewa dengan pihak sekolah lantaran setelah kasus ini viral, baru pihak sekolah menunjukkan itikad baik dan perhatiannya.

“Kalau seandainya ini tidak viral, mungkin mereka tidak ada itikad baiknya untuk melihat anak saya,” Jawab lala

Pihak sekolah, sebut lala, juga seperti berupaya menyembunyikan kejahatan yang dialami anaknya. “Dibilangnya anak itu (pelaku-red) anak yang keterbelakangan mental. Itu saya dengar dari berita-berita lain ya. Saya lihat komentar-komentar. Saya emosi sebenarnya,” ungkapnya.

“Ya kenapa diterima kalau itu. Toh anak itu sudah pernah jadi ketua kelas. Saya kecewanya sih terjadi pembiaran terhadap anak saya,” Singkat lala.

Reporter: Akmal

Comments

Berita Terbaru