oleh

Harimau Sumatera yang Ditangkap Sebulan Lalu Masih Agresif

HALUANRIAU.CO, PALEMBANG – Harimau Sumatera yang ditangkap sebulan yang lalu hingga kini belum bisa dilakukan tes darah. Satwa predator yang diduga telah banyak memangsa korban jiwa warga Sumsel itu dinilai masih agresif.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel Genman Hasibuan mengungkapkan, harimau tersebut masih menjalani observasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Lampung. Hanya saja, pihaknya belum menerima laporan terbaru terkait hasil pemeriksaan.

“Kondisinya sehat, tapi sifatnya agresif sehingga belum memungkinkan dilakukan tes,” ungkap Genman, Senin (10/2).

Setelah diketahui hasilnya, kata dia, akan ada dua kemungkinan solusi, yakni dilepas ke areal konservasi dan dikirim ke kebun binatang. Cara ini dianggap efektif karena satwa liar yang berkonflik dengan manusia tidak bisa kembali ke habitatnya dan diprediksi terus menyerang manusia.

“Nanti akan dicarikan tempat baru bisa di konservasi, atau ditempatkan di kebun binatang,” ujarnya.

Genman mengatakan, harimau itu disinyalir keluar dari habitatnya untuk mencari jelajah. Terlebih, umurnya masih dua tahun dan berjenis kelamin jantan sehingga memungkinkan untuk menguasai teritorial baru.

“Sifat harimau memang begitu, tidak bergerombol, dia tidak mau masuk ke suatu tempat jika sudah ada harimau lain, terutama jantan,” kata dia.

Tersisa 17 Harimau

BKSDA menyebut populasi harimau Sumatera di Sumsel hanya tersisa 17 ekor yang tersebar di delapan daerah. Yakni, Kabupaten Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Selatan, Musi Banyuasin, Banyuasin, Pagaralam, dan Musi Rawas Utara.

“Kemungkinan ada penambahan karena informasinya ada harimau yang melahirkan,” kata dia.

Terkait konflik dengan manusia, Genman menduga karena buruan harimau semakin habis akibat diburu manusia dan habitatnya rusak. Jika kondisi ini terus terjadi, disinyalir teror terhadap manusia berlanjut.

“Harimau bukan merupakan hewan yang menyerang jika tidak terdesak. Rusaknya habitat dan putusnya rantai makanan tetap menjadi aspek yang dikedepankan dalam melihat konflik antara manusia dan harimau,” pungkasnya. (sumber:merdeka.com)

Comments

Berita Terbaru